It’s A Place for Self-Reflection, The World of Words Expressing Limitless Thoughts, Imagination, and Emotions

Jumat, 09 Desember 2011

DILEMA ILMUWAN SIBUK

Much. Khoiri
Mengapa tradisi keilmuwan di rata-rata Perguruan Tinggi (PT) kita belum kukuh dan mengakar? Memang banyak penyebab bisa muncul.
Tapi penyebab mendasarnya, adanya kecenderungan bahwa kebanyakan ilmuwan senior kita, si tulang-punggung tradisi ilmiah di kampus, telah dipredikati “ilmuwan supersibuk”.
Mereka adalah ilmuwan yang bukan main sibuk dengan “urusan-urusan lain” yang lazim mengacu ke kepejabatan di lingkungan kerja (kampus). Karena urusan-urusan itu, mereka tak sempat lagi menekuni dan mengembangkan disiplin ilmunya sendiri. Ilmuwan jadi merana
Bila ada doktor baru misalnya –apalagi lulusan luar negeri– pasti tugas-tugas lain di luar keilmuwannya sudah siap menodong. Karena dianggap mumpuni, ia akan dipromosikan menduduki suatu jabatan tertentu. Dalam jabatan itu, ia diharapkan tampil sebagai pemikir dan konseptor rencana dan langkah strategis, serta motor penggerak aplikasinya.
Di lingkungan PT, ia mungkin ditunjuk jadi anggota senat universitas, rektor, dekan, kepala penelitian, kepala pengabdian masyarakat, atau kepala perpustakaan.
Belum lagi kepanitiaan ini-itu yang jumlahnya nyaris tak terhitung. Tapi dalam hal ini, toh jarang yang berani menolak. Selain hierarki kedinasan, ia pun tertodong oleh semacam tanggung jawab (atau beban?) moral untuk menunjukkan pengabdian dan loyalitas.
Maka berlakulah logika birokrasi di sini. Sang doktor baru itu seakan ditagih membuktikan signifikansi nyata dari kuliah lanjutnya. Bukan signifikansi pengembangan akademis, tapi signifikansi praktis dan pragmatis yang langsung terkait dengan institusinya. Tak peduli ia lulusan doktor atau sponsor luar negeri atau atas beasiswa pemerintah. Tuntutannya sama.
Akibatnya, waktu, tenaga, dan pikirannya yang semestinya demi pengembangan spesialisasi ilmu yang baru saja digenggam, habis tersedot untuk mengurusi tugas-tugas kepejabatannya.
Spesialisasinya tersisihkan, kepejabatannya mengedepan. Ilmu yang sebentar hangat itu secara perlahan akan mendingin sebelum kemudian layu dan mati.
Hakikatnya seorang doktor menyandang predikat akademis yang tinggi, dengan kewenangan akademik (academic authority) yang tak diragukan lagi. Suaranya didengar, pemikirannya diharapkan, saran-sarannya dinantikan. Namun, jika semangat keilmuwannya layu akibat tertindih atau ditelan beban-beban tugas nonakademis, apa yang bisa diharapkan darinya?
Memang, dalam penelitian, ia mungkin sempat jadi pembimbing bagi sekian peneliti muda. Tapi keterbatasan waktu tenaga menyebabkan per-bimbingan tak bisa intensif dan optimal. Jika ia jadi ketua peneliti – lagi akibat kesupersibukannya – mungkin ia tak sempat lagi turun langsung ke lapangan / objek penelitian. Praktik penelitian dipercayakan kepada anggotanya.
Tak Menunjang
Secara akumulatif, kondisi demikian tentu tak menunjang tradisi keilmuwan di PT bersangkutan. Janganjan mengakar, hidup bergairah pun tak mungkin terwujud. Soalnya, SDM yang semestinya berperan sebagai motor penggeraknya sudah layu (meski pernah berkembang).
Inilah kerugian terbesar yang selama ini tak disadari oleh policy maker kita. Policy maker secara tak langsung telah membunuh kebebasan kreatif dan inovatif para ilmuwan.
Ilmuwan super sibuk mungkin tak bisa dikambinghitamkan. Diakui atau tidak, tradisi keilmuwan di PT tak steril dari lingkaran kebijakan elite kebijakan elite politik birokratik.
Ilmuwan kita terjebak halus sebagai pelaksana kebijakan pembangunan makro dan mikro. Mereka tak bisa berdiri sebagai akademikus independen tapi sebagai “penerjemah kebijakan” yang dependen. Dan yang tak bisa kompromi mungkin dicap tak loyal atau mbeling dan, karenanya, minggir atau dipinggirkan.
Padahal untuk menyehatkan tradisi ilmiah, ilmuwan harus tampil sebagai akademikus independen. Mereka mesti jadi acuan kebijakan elite politik/birokratik, juga tampil sebagai pilar-pilar kontrol kebijakan yang kukuh. Mereka menjadi supersibuk dalam disiplin ilmunya, selebihnya hanya kegiatan penunjang dan pelengkap. Itu baru namanya pengabdian yang proporsional.
Dalam dunia penelitian, gejalanya makin jelas. Umumnya, tema-tema penelitian sudah seperti paket dari pusat atau lembaga lain yang bersifat “pesanan”. Bahkan, format proposal, gaya penulisan, dan bentuk laporan harus sesuai patokan baku yang sudah terpaket. Peneliti harus mau berkompromi dengan model penelitian policy ini jika ingin mendapat kucuran dana. Semuanya terkesan praktis dan pragmatis, yang bervisi kekinian, sesaat dan kering.
Adapun mereka yang mau menggelar penelitian murni (dalam bidang spesialisasi) terpaksa tarik napas kecewa dalam-dalam akibat seretnya peluang dan fasilitas. Padahal penelitian murni pun tak kalah pentingnya untuk pengembangan tradisi keilmuwan. Ini pun suatu bukti ketakmandirian ilmuwan dalam memposisikan dirinya di lingkungan kampus yang tak steril itu.
Posisi serba dilematis yang dihadapi para ilmuwan (senior) kita memaksa mereka menjatuhkan satu pilihan; disiplin ilmu atau “urusan lain”. Jarang ilmuwan yang menjabat juga bisa mengembangkan ilmunya. Ini pun cuma berlaku bagi mereka yang sikap ilmiahnya kukuh dan mapan.
Perlu Kebijakan
Melihat fenomena ini, agaknya perlu suatu kebijakan institusional atau nasional yang kondusi bagi ilmuwan kita. Tugas-tugas non-akademis seyogyanya tak diberikan kepada seorang doktor baru lulus kuliah.
Mereka perlu dipeluangi untuk menunjukkan potensi-dasarnya: meneliti, menulis buku, seminar, menyebarkan pemikiran lewat media massa atau jurnal, dan sebagainya. Selain untuk memperkukuh disiplin ilmunya, mereka juga akan mengibarkan nama lembaga.
Lalu siapa yang semestinya menjabat dan mengurusi “urusan lain”? jabatan ini lebih banyak bagi ilmuwan-ilmuwan (doktor) senior yang telah benar-benar established (mapan), yang sikap ilmiahnya tak mudah goyah meski memegang jabatan, yakni mereka yang tetap berkarya di tengah kesibukannya menjabat. Adapun doktor “baru” perlu diantrekan sampai ia memenuhi syarat kelayakan kedinasan dan kesiapan mental/moralnya.
Dengan demikian, mereka akan bekerja secara manusiawi untuk saling membantu menopang tumbuhnya akar tradisi keilmuwan yang kukuh. Ada yang berjuang lewat lingkar birokrasi bernapaskan keilmuwan, disokong dengan karya ilmiah berbobot tinggi. Kesupersibukkan bukan lagi suatu paksaan yang menggilas sikap ilmiah, melainkan wahana kondusif untuk membeking perjuangan akademis.
Pada gilirannya, ilmuwan supersibuk perlu dimasukkan dalam sistem monitoring akademis secara bersih. Seperti di universitas negara maju, seorang profesor / doktor harus tetap berkarya meski memegang jabatan.
Jika dalam waktu tertentu sikap ilmiahnya layu atau mati, hingga tak sempat berkarya, ia harus siap di-recall atau diberhentikan sebagai ilmuwan. Kini kita tinggal pilih, punya ilmuwan supersibuk dalam disiplin ilmunya, supersibuk dalam “urusan-urusan lain” atau supersibuk dalam kedua-duanya. Dan untuk itu, itikad murni-bening perlu kita tumbuhkan di dalam kalbu sebelum tradisi keilmuwan di PT kita makin kelabu.

Surabaya Post, Sabtu 6 Desember 1997

Tidak ada komentar:

Posting Komentar