It’s A Place for Self-Reflection, The World of Words Expressing Limitless Thoughts, Imagination, and Emotions

Jumat, 25 Februari 2011

METODE PETA PIKIRAN UNTUK MENULIS CERITA PENDEK


Pengantar: Metode peta pikiran sedang dikembangkan di berbagai disiplin ilmu, terutama dalam proses pembelajaran, agar siswa mencapai pemerolehan yang optimal. Metode peta pikiran, ternyata, juga dapat diterapkan sebagai upaya memacu kreativitas siswa SMA dalam menulis cerita pendek. Dalam kesempatan ini kami tampilkan uraian Eri Sarimamah, dosen PBS Indonesia FKIP-Universitas Pakuan, yang diadaptasi dari http://eri-s-unpak.blogspot.com/search? (diunduh 26 Juli 2009). Mudah-mudahan Anda mengambil pelajaran darinya.

1. Pendahuluan
Karya sastra muncul dari pengalaman hidup manusia baik pengalaman diri sendiri; pengalamannya dalam berhubungan dengan orang lain, keluarga, dan masyarakat sebagai manusia yang berbudaya; maupun pengalaman iman dengan yang transedens (Illahi). Menurut Rahmanto, ada tiga jenis dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan penulisan karya sastra, yaitu dorongan religius, sosial, dan personal (1988: 13-14).
Dapat disimpulkan bahwa karya sastra tidak bisa lepas dari pengalaman hidup manusia, pengalaman yang terolah, dan ada hubungan yang sangat dialektif antara sastra dan masyarakatnya. Karya sastra dipengaruhi oleh keadaan masyarakat. Di pihak lain karya sastra diharapkan mampu mempengaruhi masyarakat. Dengan demikian karya sastra dapat berperan sebagai sarana pendidikan.
Cerita pendek sebagai salah satu bentuk karya sastra mengungkap berbagai bentuk realita dinamika kehidupan. Cerita pendek adalah karya sastra yang mengandung interpretasi pengarang tentang konsepsi mengenai kehidupan, menimbulkan hempasan dalam pikiran pembaca, dan mengandung perincian dan insiden-insiden yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran pembaca. (Lubis, 1996: 93). Sebagai karya sastra berbentuk prosa, cerita pendek bersifat rekaan fiktif yang isinya tentang penggalan kisah seorang tokoh dalam kehidupannya di satu situasi serta ceritanya relatif pendek. Cerita pendek harus mampu menggugah minat orang untuk membacanya, memberi kearifan hidup, sehingga mampu menggerakkan pembaca untuk menjalani hidup yang lebih baik. Dengan demikian pembelajaran cerpen di sekolah sangat menunjang pendidikan.
Lembaga pendidikan formal, dalam hal ini sekolah melalui kurikulumnya memberikan peluang kepada siswa untuk dapat mengembangkan keterampilan menulis cerita pendek. Hal tersebut dapat dilihat dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, dengan standar kompetensi: Mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan dalam berbagai bentuk tulisan sastra melalui menulis puisi, cerpen, dan menulis/ menciptakan karya sastra berdasarkan berbagai latar.
Namun demikian, bukti di lapangan menunjukkan kemampuan siswa dalam menulis cerpen masih dangkal. Hal tersebut dapat dilihat dari sedikitnya karya sastra yang dihasilkan oleh para siswa. Tidak berminatnya siswa dalam belajar sastra.Jika pun ada siswa yang tertarik dengan sastra, mereka kesulitan untuk memulai berkarya..
Faktor yang melatarbelakangi hal tersebut di atas, diantaranya: pertama, karena terbatasnya waktu yang disediakan kurikulum untuk latihan keterampilan menulis. Kedua, bahan-bahan untuk pembelajaran sastra relatif kurang. Ketiga, guru tidak kreatif mengemas model pembelajaran yang dapat menarik minat siswa untuk membangkitkan kreativitas siswa dalam menulis cerpen.
Bagian paling sulit dalam menulis adalah mengetahui apa yang akan ditulis, yaitu apa temanya, dan bagaimana memulainya. Oleh karena itu diperlukan sebuah metode yang dapat menjembatani kesulitan-kesulitan tersebut. Salah satunya adalah melalui peta pikiran. Saat memetakan pikiran dan membiarkan gagasan dan pemikiran siswa menyebar ke seluruh halaman, maka suatu saat siswa akan mencapai suatu tahap yaitu mengetahui dengan benar apa yang akan ia tulis (Hernowo, 2004: 142).
Menurut DePorter dalam Quantum Learning (2004: 177) dikatakan bahwa peta pikiran merupakan pendekatan keseluruhan otak yang akan membuat siapapun mampu membuat catatan yang menyeluruh dalam satu halaman. Dengan menggunakan citra visual dan perangkat grafis lainnya, peta pikiran akan memberikan kesan yang lebih dalam.
Dalam menyusun sebuah cerita pendek, siswa diberi kebebasan untuk mengemukakan pikirannya tanpa dibatasi oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Melalui peta pikiran, siswa dapat mencatatkan poin-poin utamanya dalam karangannya. Sesuai dengan pernyataan DePorter, alasan pertama untuk mencatat adalah bahwa mencatat meningkatkan daya ingat.
Dengan melihat permasalahan yang ada, penulis bertujuan memberikan alternatif metode pembelajaran yang diharapkan dapat memacu kreativitas siswa dalam menulis cerpen melalui kemampuan membuat peta pikiran dengan desain visual grafis yang menarik selaras dengan uaraian ceritanya. Maka penulis kemas tulisan ini dengan judul Penerapan Metode Peta Pikiran Sebagai Upaya Memacu Kreativitas Siswa dalam Menulis Cerita Pendek.

2. Kajian Teori

2.1 Menulis
Kegiatan menulis merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dalam proses belajar yang dialami siswa selama menuntut ilmu. Oleh karena itu pengajaran keterampilan menulis di sekolah merupakan sarana untuk melatih dan menjadikan siawa kreatif dalam menulis. Melalui keterampilan menulis ini siswa diharapkan dapat menceritakan suatu kisah, menerangkan suatu kegiatan, dan berbagi rasa serta pikiran dengan menggunakan bahasa tulis.
Berdasarkan sifatnya kegiatan menulis merupakan cara berkomunikasi secara tidak langsung, dalam arti kegiatan berkomunikasi dengan tidak bertatap muka. Selain itu menulis juga merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif. Menulis dapat diartikan menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut jika mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu (Tarigan, 1994: 21).

DePorter (2002: 179) mengartikan menulis sebagai aktivitas seluruh otak yang menggunakan belahan otak kanan (emosional) dan belahan otak kiri (logika). Sedangkan Akhadiah (2001: 3) mengartikan menulis sebagai aktivitas komunikasi bahasa dan menyampaikan pesan dengan menggunakan bahasa tulisan sebagai medianya.

Berdasarkan beberapa pendapat para tokoh tentang menulis, maka dapat disimpulkan, bahwa menulis merupakan kegiatan menyampaikan pesan dari penulis kepada pembaca dengan menggunakan bahasa tulis yang melibatkan emosional dan logika.
Menulis sangat bermanfaat bagi kehidupan terutama sebagai alat berkomunikasi. Selain untuk menuangkan gagasan, kegiatan menulis juga dapat melatih seseorang menjadi lebih disiplin dalam berbahasa dan menjadi lebih kreatif. Menulis juga sebagai sarana untuk menggambarkan sesuatu yang telah dilihat, dirasakan, dan diucapkan ke dalam bentuk tulisan.
Penulis yang baik harus dapat mengungkapkan dengan jelas tujuan yang ditulisnya sehingga penyampaian pesan kepada pembaca tercapai. Berkaitan dengan hal itu penulis dituntut untuk memusatkan perhatiannya pada hal yang akan ditulisnya sehingga menghasilkan tulisan yang baik. Melalui menulis seseorang diharapkan memiliki wawasan yang lebih luas dan mendalam mengenai topik yang ditulisnya.


2.2 Cerita Pendek

Cerita Pendek merupakan salah satu karya sastra berbentuk prosa. Bila dilihat dari bentuknya cerpen adalah cerita yang pendek atau singkat, namun bila hanya dilihat dari bentuknya saja kita belum bisa membedakan secara jelas antara cerpen dengan bentuk prosa lainnya.
Menurut Lubis (1996: 93) Cerita pendek adalah karya sastra yang mengandung interpretasi pengarang tentang konsepsi mengenai kehidupan, menimbulkan hempasan dalam pikiran pembaca, dan mengandung perincian dan insiden-insiden yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran pembaca.

Menulis cerpen adalah memindahkan kata-kata dan ucapan ke bentuk tulisan. Jika seorang penulis harus menulis sebuah cerpen, penulis tersebut dituntut untuk dapat mengolah imajinasi, menuliskan semua yang dilihat dan dirasakan disertai imajinasi agar tulisannya menjadi lebih hidup hingga mewarnai perasaan pembacanya. Untuk dapat mengatasi hal tersebut seorang penulis cerpen harus mengetahui proses kreasi atas sebuah karangan dan memahami imajinasi.

Proses kreasi atas sebuah karangan pada dasarnya adalah bagaimana cara pengarang memandang berbagai peristiwa, fakta, dan realitas, lalu mengolahnya melalui imajinasi menjadi sebuah karangan (Hariadi, 2004: 21). Proses kreasi atas karangan ini akan lebih hidup jika penulis mengembangkan imajinasi dalam karangannya. Secara fisik imajinasi adalah kemampuan dahsyat yang dimiliki manusia untuk membayangkan, ini terletak pada otak kanan (Hernowo, 2005: 21). Untuk memahami secara mudah berimajinasi dengan cara membayangkan sesuatu menimpa diri kita dan orang lain kemudian dihayati sampai mendalam kemudian reaksi ini dipindahkan dalam bentuk peta pikiran.
Dalam menulis cerpen akan melibatkan pengolahan imajinasi, menuliskan semua yang bisa dilihat dan dirasakan serta mengolah imajinasi agar pembaca dapat merasakan dan menerima pesan yang disampaikan penulis.

Langkah-langkah menulis cerita pendek adalah sebagai berikut:

a. menentukan tema,
b. mengembangkan ide cerita (tema, tokoh, latar, alur, amanat)
c. konsentrasi
d. menulis dengan memperhatikan peraturan menulis.
Langkah-langkah ini akan penulis variasikan dengan diterapkannya metode peta pikiran dalam proses penulisan cerpen.
Adapun kriteria penilaian menulis cerpen ada dalam lampiran.

2.3 Peta Pikiran

Mencatat merupakan salah satu keterampilan dasar yang sangat penting dimiliki oleh setiap orang yang ingin meningkatkan keterampilan menulisnya. Kegiatan mencatat yang sering kita lakukan yaitu dengan menggunakan catatan tradisional atau catatan linear. Catatan tradisional ini merupakan cara mencatat hanya dalam bentuk tulisan-tulisan, menggunakan satu warna tinta, dan menyita banyak waktu. Namun ada cara mencatat yang efektif yaitu dengan menggunakan mind mapping atau peta pikiran.

Kegiatan mencatat dengan menggunakan peta pikiran ini sebagai latihan yang dapat mengoptimalkan fungsi belahan otak kiri dan otak kanan, yang kemudian dalam aplikasinya sangat membantu memahami masalah dengan cepat karena telah terpetakan. Dalam membuat peta pikiran kita bebas memberikan warna, gambar, dan simbol sehingga dapat menuangkan seluruh kemampuan imajinasi yang kita miliki.

Metode mencatat yang baik harus membantu kita mengingat perkataan dan bacaan, meningkatkan pemahaman terhadap materi, membantu mengorganisasikan materi, dan membarikan wawasan baru. Peta pikitan adalah metode mencatat kreatif yang memudahkan kita mengingat banyak informasi (Bobby DePorter, 2004: 175). Menurut Buzan (2005, 2004: 75) peta pikiran merupakan alat yang paling hebat yang membantu otak berpikir secara teratur. Peta pikiran merupakan peta perjalanan yang hebat bagi ingatan, dengan memberi kemudahan kepada kita dalam mengatur segala fakta dan hasil pemikiran dengan cara sedemikian rupa sehingga cara kerja alami otak akan dilibatkan dari awal.

Agar terdorong untuk menggunakan peta pikiran, kita perlu mengetahui manfaat dari peta pikiran yang diantaranya adalah menyenangkan, imajinasi dan kreativitas kita tidak terbatas. Dalam hal menulis cerpen, menjadikan pembuatan dan peninjauan ulang catatan lebih menyenangkan (De Porter, 2005: 172).

Dalam membuat peta pikiran, hendaknya menggunakan pulpen warna-warni dan mulailah menulis di bagian tengah kertas. Kalau bisa gunakan kertas secara melebar untuk mendapatkan lebih banyak tempat. Adapun langkah-langkah membuat peta pikiran menurut Buzan (2005: 21) adalah sebagai berikut:

a. Mulailah dari bagian tengah permukaan secarik kertas kosong yang diletakkan dalam posisi memanjang.
b. Gunakan sebuah gambar untuk gagasan sentral.
c. Gunakan warna pada seluruh peta pikiran, dengan membedakan penggunaan warna pada masing-masing cabang.
d. Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar sentral dan hubungkan cabang-cabang tingkat kedua dan ketiga pada tingkat pertama dan kedua, dan seterusnya.
e. Buatlah cabang-cabang peta pikiran berbentuk melengkung bukannya garis lurus.
f. Gunakan satu kata kunci perbaris.
g. Gunakan gambar di seluruh peta pikiran Anda.

3. Silabus Pembelajaran
Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia
Satuan Pendidikan : SMA
Tema Pokok : Menulis Cerpen
A. Standar Kompetensi
Mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan dalam berbagai bentuk tulisan sastra melalui menulis puisi dan cerpen, dan menulis/menciptakan karya sastra berdasarkan berbagai seting atau latar.
B. Kompetensi Dasar
Menulis berbagai karya sastra puisi dan cerpen (dalam tulisan ini, khusus cerpen)
C.Indikator
· Menentukan tema, tokoh, latar, alur, dan amanat cerpen.
· Megembangkan ide dalam bentuk peta pikiran
· Mengembangkan ide-ide dari peta pikiran ke dalam bentuk cerpen dengan memperhatikan pilihan kata, tanda baca, dan ejaan.
D.Langkah Pembelajaran
· Prakegiatan
Ø Guru mengondisikan siswa dengan meminta menyiapkan perangkat untuk pembuatan peta pikiran dan menulis cerpen. (kertas putih polos, pulpen warna-warni, alat tulis lainnya jika diperlukan)
Ø Jika mungkin posisi tempat duduk membentuk setengah lingkaran. Atau bisa juga dengan mengambil tempat duduk secara bebas, bisa di bawah atau di bangku.
· Kegiatan Awal
Guru menyampaikan tujuan, baik dari proses maupun hasil yang harus dicapai siswa dalam pembelajaran.
Guru menjelaskan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam proses belajar mengajar.
· Kegiatan Inti
Ø Siswa diberi contoh cerpen, kemudian mengapresiasinya.
Ø Kepada siswa diperlihatkan contoh peta pikiran.
Ø Siswa diminta untuk membuat peta pikiran berkenaan dengan cerpen yang akan dibuatnya dengan langkah-langkah sebagai berikut:
v Mulailah dari bagian tengah permukaan secarik kertas kosong yang diletakkan dalam posisi memanjang.
v Gunakan sebuah gambar untuk gagasan sentral.
v Gunakan warna pada seluruh peta pikiran, dengan membedakan penggunaan warna pada masing-masing cabang, dalam hal ini unsur intrinsik cerpen.
v Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar sentral dan hubungkan cabang-cabang tingkat kedua dan ketiga pada tingkat pertama dan kedua, dan seterusnya.
v Buatlah cabang-cabang peta pikiran berbentuk melengkung bukannya garis lurus.
v Gunakan satu kata kunci perbaris.
v Gunakan gambar di seluruh peta pikiran Anda.
Ø Guru memantau aktivitas siswa, dan membimbingnya jika siswa mendapat kesulitan.
Ø Setelah selesai membuat peta pikiran siswa diminta menulis cerita pendek dengan mengoptimalkan pengimajian dari peta pikiran, kemudian menulis cerpen sesuai aturan penulisan.
· Kegiatan Akhir
Ø Guru bersama-sama siswa membahas hasil pekerjaan siswa, dan menyimpulkan hasil pembelajaran.
Ø Guru memberikan tes (instrumen terlampir).
E. Sarana dan Sumber Belajar
· Alat peraga: contoh peta pikiran, contoh cerpen.
F. Penilaian
· Tes tertulis membuat cerpen.
· Kriteria penilaian terlampir.

4. Penutup

Terdapat banyak ragam kegiatan belajar sastra, namun sedikit model yang dapat memacu kreativitas dan membangkitkan minat siswa untuk berkarya. Hal ini tentu saja harus dibarengi dengan keinginan dan kemauan guru dalam mendesain pembelajaran.Guru harus kreatif dalam mengemas pembelajaran sastra.

Metode peta pikiran merupakan salah satu model yang dapat dikembangkan di sekolah dalam pembelajaran menulis cerpen. Melalui metode peta pikiran siswa di\ajak untuk menjelajahi secara menyeluruh apa yang akan dituangkannya dalam bentuk visual grafis yang penuh gambar dan aneka warna. Hal ini tentu saja akan membuat siswa bergairah untuk memulai penulisannya. Metode peta pikiran dalam menulis cerpen akan menjadi pemacu dan penggugah dalam pembelajaran sastra yang selama ini sangat kurang diminati.



Daptar Acuan
Akhadiah, Sabarti. 1986. Menulis I. Jakarta: Universitas Terbuka.
Buzan, Toni. 2005. Mind Map untuk Meningkatkan Kreativitas.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Deporter, Bobbi., dan Mike Hernacki. 1999. Quantum Learning:Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa.
Hernowo. 2004. Quantum Writing: Cara Cepat Nan Bermanfaat Untuk Merangsang Munculnya Potensi Menulis/Editor.Bandung: Mizan Learning Center.
Rahmanto, Bernadus. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.
Tarigan, Henry Guntur. 1994. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

1 komentar:

  1. Untuk teman2 guru, bagaimana pendapat Anda? Mungkinkah hal ini diterapkan di sekolah Anda? Kenapa tidak dicobakan? Salam sukses.

    BalasHapus